Rabu, 05 Januari 2011

KEMANA ARAHKU

Berangkat dari keluarga dengan latar belakang yang pas-pasan dan hidup dikampung yang jauh dari hiruk pikuk perkotaan tak membuat krisno kecil merasa takut tuk hadapi kerasnya kehidupan. Sekolah dengan tanpa alas kaki (nyeker) kala masih duduk di bangku sekolah dasar (memang masih wajar waktu itu) tak membuat ragu untuk melangkah atau berlari merebut setiap kesempatan menjadi yang terbaik.

Bukan yang terbaik, tapi bayang-bayang secercah harapan itu slalu terpatri dalam pikirnya. Kesempatan demi kesempatan coba di raih dalam peraduan nasib yang tak pernah terjanjikan. Semangat dan keyakinan untuk menjadi yang terbaik tak pernah kendor. Setidaknya kesempatan telah ada, hanya waktu dan nasib baik belum berpihak.

Enam Tahun berselang, kesempatan untuk menjadi nomor satu telah terlewatkan karena keyakinan yang terlalu tinggi (over confidence). Fokus pikiran kembali menyemangati diri sendiri dalam keterbatasan. Sehari-duahari, minggu, bulan dan tahun demikian mudah dilewati dengan menjadi yang terbaik. Pelajaran didapat dalam dekade 3 tahun yang dilalui. Terbaik ternyata tidak membuat orang mudah mendapatkan yang diinginkan, dan segala cara ditempuh oleh orang lain untuk menyingkirkan kita dan melupakan janji-janji terhadap kita. Dan sosok krisno remaja mulai terbentuk dengan segala tempaan mental, jasmani dan sedikit rohani. Tapi setidaknya, dengan keterbatasan yang ada kita mampu melewati segala hambatan dan bisa menjadi yang terbaik. Terlebih lagi, kita merasa berguna bagi orang lain. Tapi kadang hal itu yang membuat kita lupa diri.

Perjalanan hidup menuju kedewasaan dimulai dipertengahan tahun 1990. Kala itu dihadapkan pada situasi yang sulit, walaupun tidak sesulit masa tiga tahun terakhir yang telah terlewati. Tapi ditahun 1990 dan selanjutnya, jati diri seorang anak kecil yang kini berubah jadi dewasa akan menentukan. Proses pun berjalan walaupun tidak selayaknya dalam lingkungan tersebut. Setahun dilalui dengan begitu sulit dan dihadapkan pada masalah siapa sebenernya diri ku ini?

Setahun terlewati tanpa menemukan diri sendiri membuat kesempatan itu pun hilang. Belajar dari keterpurukan setahun, sedikit demi sedikit kumulai bangkit tuk tunjukkan diri sapa saya sebenernya. Aku lah aku, kamu, kalian dan mereka tak berhak mengatur aku. Aku telah belajar tentang diriku, dan aku juga telah belajar tentang sapa kalian dan sapa mereka. Praktis tahun setahun kucoba tuk kembali menyelami siapa diriku dan sampai dimana kemampuanku agar aku bisa bangkit. Bangkit dari kekalahan atas diriku sendiri dan lingkunganku. Oh..aku mulai sadar akan kemampuanku.

Tahun pertama setelah aku dibilang memasuki usia dewasa, aku coba rubah arah dan aku coba untuk bisa mengatur diriku dan mengatur diri orang lain tanpa merendahkan mereka dan meremehkan hak mereka. Aku punya hak mereka juga punya, aku punya kewajiban, mereka juga punya. Dari situ aku berangkat untuk menjadi diriku sendiri yang sebenarnya. Aku percaya akan kemampuanku dan aku percaya akan ketatnya persaingan. Kemauan dan tekad kembali berkobar tuk tampil menjadi diri sendiri, tapi berguna bagi orang lain dan lingkungan. Dan..kepercayaan itu mulai datang. Tapi sifat jelek seorang manusia yang sedang dalam masa pencarian dan pembentukan pribadi, sifat jumawa itu kadang timbul dan menjerembabkan diri ini. Gengsi dan sifat lelakiku tidak membuat diri ini kendur, tapi sebaliknya. Aku tahu apa yang harus aku perbuat dan aku tahu apa resikonya.

Masa penggodokan untuk menjadi Krisno dari Sukrisna memang begitu melelahkan dan kadang malu dan tertawa sendiri. Itulah jalan hidup yang harus dilewati sebagai proses dan tanggung jawab seorang anak manusia yang harus selalu berusaha tanpa kenal menyerah, serta percaya akan kebesaran Allah SWT.
Setidaknya Krisno telah keluar dan lulus dalam menjalani 1/3 tantangan hidup.

Bersambung ......