Kamis, 17 Juli 2008

Kemana Atlet setelah PON

PON XVII telah usai dan Christo menggondol tiga medali emas untuk Tim PON DKI Jakarta. Secara matematis raihan ini merupakan raihan medali terbanyak yang disumbangkan oleh seorang Christo yang merupakan atlet yunior. Hal tersebut melampui raihan medali para seniornya. Tak rugi bagi tim DKI Jakarta memulangkan Christo lebih cepat dari ajang tenis paling bergengsi Wimbledon Championship yang berlangsung di London Inggris. Hadirnya seorang Christo merebut tiga medali emas merupakan buah pembinaan atlet DKI Jakarta khususnya.
Terlepas dari keberhasilan pembinaan atlet, tak ada yang tahu berapa target emas yang dibebankan kepada seorang Christo dalam ajang PON XVII Kalimantan timur. Meraih medali merupakan suatu tanggung jawab seorang atlet kepada daerahnya yang diwakili. Dan prestasi Christo di ajang PON XVII menjawab keraguan publik tenis yang kecewa mengapa seorang Christo lebih mementingkan PON daripada event yang lebih besar yaitu Wimbledon. Hanya seorang Christo dan mungkin Tim PON DKI Jakarta yang tahu jawabnya. Banyak spekulasi anggapan miring bahwa atlet kita lebih mementingkan materi atau bonus yang sifatnya hanya sesaat ketimbang pengalaman bertanding dievent sebesar Wimbledon.
Bila saya diposisi Christo mungkin juga akan bingung memilih, akan terus tetap bertahan di Wimbledon atau pulang ke Indonesia untuk kemudian terbang ke Balikpapan mengikuti PON XVII. Hal itu merupakan tanggung jawab pribadi seorang Christo, dan apapun sikap yang diambil sudah barang tentu dengan banyak pertimbangan.
Bicara soal tanggung jawab sebagai atlet, seorang Christo yang dibilang masih junior dia telah menunjukkan tanggung jawabnya dengan merebut tiga medali emas untuk timnya. Tapi apa tanggung jawab untuk menyumbangkan medali emas PON harus dibebankan kepada seorang Christo saja. Sedangkan Christo juga mempunyai tanggung jawab yang lebih besar mempertaruhkan nama negaranya diajang Wimbledon.
Semua orang tahu bahwa Christo adalah aset negara yang kelak akan menjadi atlet yang besar. Menjadi atlet yang besar butuh pengorbanan baik materi dan yang lainnya. Tapi haruskah mental seorang pahlawan yang telah tiga kali memperkuat tim Davis Cup Indonesia ini digerogoti oleh kepentingan yang lebih kecil.
Masalah Christo mungkin tidak akan habis dan menarik untuk diperdebatkan. Namun kita juga musti fair dan mengakui ketangguhan Christo diajang PON. Lalu gimana dengan atlet yang lain? Sudahkah mereka memberikan yang terbaik bagi daerahnya. Juara hanya satu. Tak sedikit daerah yang mencomot atlet dari daerah lainnya dan tak sedikit masalah yang timbul untuk mendapatkan atlet yang diinginkan. Maksud hati ingin mendapatkan yang terbaik, dan sudah bukan menjadi rahasia umum bahwa semua dengan perjanjian-perjanjian yang tentunya hanya diketahui oleh atlet dan daerah yang meminangnya. Apa untung ruginya, pasti ada.
Pertama, atlet daerah itu sendiri secara tidak langsung dikerdilkan dan tidak diberi kesempatan untuk mewakili daerahnya meski atlet tersebut notabene atlet terbaik didaerah tersebut. Kedua, daerah yang merekrut tentu harus mengeluarkan dana lebih besar dibandingkan memakai atlet daerah itu sendiri karena harus menanggung banyak beban. Dan yang terakhir mungkin daerah itu akan merasa ditipu apabila si atlet tidak dapat mencapai hasil sesuai target yang diinginkan.
Dampaknya setelah event selesai maka si atlet dilepas lagi dan bisa bebas terbang ke daerah lain. Bila berkaca pada multi event yang lebih besar, pihak PB PON atau dalam hal ini KONI hendaknya membuat peraturan baku mengenai perpindahan atlet ke daerah lain. Salah satunya persyaratan kepindahan adalah bahwa si atlet belum pernah memperkuat tim PON daerah lain. Sehingga dengan demikian para atlet junior akan berlomba-lomba untuk berprestasi setinggi-tingginya dengan harapan bisa memperkuat tim daerahnya diajang PON, atau dalam skala lebih besar nantinya bisa mewakili negaranya dalam event internasional.
Jadi sudah sewajarnya seorang Christo terbang ke event yang lebih besar lagi bukan di PON. Karena sebagai ajang pembinaan dan pengujian para atlet nasional untuk selanjutnya melangkah ke event yang lebih besar. Maka pembinaan yunior yang harus dikedepankan oleh setiap daerah dan cabang olah raga bila ingin mencapai apa yang diamanatkan oleh Presiden RI dalam pembukaan PON XVII agar PON kali ini sebagai arena kebangkitan olah raga Indonesia. Ayoo..bangkit raih medali PON dan terus terbang tinggi raih prestasi dunia.

Selasa, 15 Juli 2008

Bangkitkah PON XVII?

Momen-momen sejarah negeri ini sering dijadikan sebagai bahan untuk tema kegiatan yang dilangsungkan untuk menarik perhatian banyak kalangan. Yah seperti PON kali ini, yang mendengungkan masalah kebangkitan Prestasi olahraga Indonesia, dan moment tersebut dikaitkan dengan 100 tahun hari kebangkitan nasional Indonesia.
Mungkinkah Indonesia bangkit? Ya segala kemungkinan itu bisa saja terjadi. Tapi apa kebangkitan itu bener bisa sekarang dicapai. Dasar-dasar kebangkitan suatu prestasi olahraga itu tidak dapat dicapai hanya dalam kurun waktu 2-4 tahun. Sedangkan dasar itu belum dibuat, kebangkitan itu bisa dibilang hanya wacana. Sebuah wacana yang tidak ada transparasinya alias gelap dan tanpa tujuan.
Kalau memang PON kali ini tujuannya sebagai kebangkitan olahraga Indonesia tentunya atlet jebolan PON atau peraih medali emas PON dapat membuktikan diri di dunia internasional bahwa olah raga Indonesia telah bangkit. Hal tersebut tentunya dapat ditunjukkan dengan prestasi olahraga didunia internasional dan bukan hanya nasional.
PON akan menjadi dasar atau tonggak kebangkitan olahraga Indonesia apabila para atlet yang turun di PON adalah atlet PON binaan setiap daerah yang ingin menunjukan kepada seluruh rakyat negeri ini sebagai aset masa depan nasional untuk dapat berkiprah di olahraga internasional.
Kenyataannya banyak daerah yang mencomot atlet dari daerah lain yang notabene usianya pun telah uzur sebagai seorang atlet. Gimana mau bangkit didunia kalau usia telah uzur. Salahkan atlet itu. Atlet adalah obyek yang seharusnya aktif untuk memperjuangkan dan menunjukkan prestasi tidak hanya karena bonus yang besar dari sekeping medali.
PON kali ini bisa dianggap sebagai pesta olahraga yang justru mengkerdilkan atlet. Gimana mo bangkit kalo atletnya jadi kerdil.
Bila PON kali ini sebagai ajang kebangkitan olahraga Indonesia, hendaknya atlet yang kecil dibina dan dibesarkan dengan memberi kesempatan bertanding di PON. Itu sebabnya kenapa PON kali ini saya sebut sebagai mengkerdilkan atlet. Atlet yang kecil dan berprestasi didaerah tidak diberi kesempatan untuk tampil di event yang lebih besar, tapi dibunuh karakternya dengan mendatangkan atlet dari daerah lain.
Pemahaman tentang makna PON tampaknya tidak didalami oleh para pembina dan atlet itu sendiri. Atau bisa dikatakan bahwa atlet junior kita sebagai serumpun padi yang sedang tumbuh namun dibenamkan dalam kubangan lumpur sebelum tumbuh bangkit dan berkembang. Yang pada akhirnya negeri ini tak pernah bisa menuai atlet yang bagus dan berprestasi dunia.