Momen-momen sejarah negeri ini sering dijadikan sebagai bahan untuk tema kegiatan yang dilangsungkan untuk menarik perhatian banyak kalangan. Yah seperti PON kali ini, yang mendengungkan masalah kebangkitan Prestasi olahraga Indonesia, dan moment tersebut dikaitkan dengan 100 tahun hari kebangkitan nasional Indonesia.
Mungkinkah Indonesia bangkit? Ya segala kemungkinan itu bisa saja terjadi. Tapi apa kebangkitan itu bener bisa sekarang dicapai. Dasar-dasar kebangkitan suatu prestasi olahraga itu tidak dapat dicapai hanya dalam kurun waktu 2-4 tahun. Sedangkan dasar itu belum dibuat, kebangkitan itu bisa dibilang hanya wacana. Sebuah wacana yang tidak ada transparasinya alias gelap dan tanpa tujuan.
Kalau memang PON kali ini tujuannya sebagai kebangkitan olahraga Indonesia tentunya atlet jebolan PON atau peraih medali emas PON dapat membuktikan diri di dunia internasional bahwa olah raga Indonesia telah bangkit. Hal tersebut tentunya dapat ditunjukkan dengan prestasi olahraga didunia internasional dan bukan hanya nasional.
PON akan menjadi dasar atau tonggak kebangkitan olahraga Indonesia apabila para atlet yang turun di PON adalah atlet PON binaan setiap daerah yang ingin menunjukan kepada seluruh rakyat negeri ini sebagai aset masa depan nasional untuk dapat berkiprah di olahraga internasional.
Kenyataannya banyak daerah yang mencomot atlet dari daerah lain yang notabene usianya pun telah uzur sebagai seorang atlet. Gimana mau bangkit didunia kalau usia telah uzur. Salahkan atlet itu. Atlet adalah obyek yang seharusnya aktif untuk memperjuangkan dan menunjukkan prestasi tidak hanya karena bonus yang besar dari sekeping medali.
PON kali ini bisa dianggap sebagai pesta olahraga yang justru mengkerdilkan atlet. Gimana mo bangkit kalo atletnya jadi kerdil.
Bila PON kali ini sebagai ajang kebangkitan olahraga Indonesia, hendaknya atlet yang kecil dibina dan dibesarkan dengan memberi kesempatan bertanding di PON. Itu sebabnya kenapa PON kali ini saya sebut sebagai mengkerdilkan atlet. Atlet yang kecil dan berprestasi didaerah tidak diberi kesempatan untuk tampil di event yang lebih besar, tapi dibunuh karakternya dengan mendatangkan atlet dari daerah lain.
Pemahaman tentang makna PON tampaknya tidak didalami oleh para pembina dan atlet itu sendiri. Atau bisa dikatakan bahwa atlet junior kita sebagai serumpun padi yang sedang tumbuh namun dibenamkan dalam kubangan lumpur sebelum tumbuh bangkit dan berkembang. Yang pada akhirnya negeri ini tak pernah bisa menuai atlet yang bagus dan berprestasi dunia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar