Hari raya Idul Fitri memang hari yang sangat ditunggu-tunggu oleh umat Islam tak ketinggalan saya sebagai umat Muslim. Sudah menjadi kebiasaan umat muslim Indonesia bahwa Hari Raya Idul Fitri akan sangat berkesan bila dirayakan bersama keluarga, khususnya dikampung halaman bagi orang seperti saya yang merantau mengadu nasib di Jakarta.
Telah 15 tahun saya merantau di Jakarta dan baru 1 kali berlebaran atau merayakan Idul Fitri di Jakarta. Saat itu kala selesai menunaikan sholat I'ed dan bersilaturahmi dengan tetangga sekitar, hati ingin sekali menangis jauh dari Saudara dan tidak bisa merayakan hari yang fitri yang selalu ditunggu oleh umat muslim. Memang waktu itu keadaan yang tidak memungkinkan saya berlebaran di kampung halaman di suatu kampung kecil di pinggiran Jogjakarta. Anak saya baru berusia 3 bulan dan keadaan ekonomi tidak memungkinkan untuk memaksakan mudik ke kampung.
Lebaran tahun 2008 kali ini ( 1429 H) saya ingin mencoba tantangan/pengalaman baru. Setelah 2 tahun terakhir saya di ajak oleh temen saya untuk mudik naik motor yang menurut saya mengandung resiko kecelakaan cukup tinggi, kali ini saya memberanikan diri dan bulatkan tekad untuk mencoba pengalaman baru ini dalam hidup saya. Dengan tanpa sepengetahuan oleh keluarga baik dari keluarga saya maupun keluarga istri, (dan hanya diketahui oleh adik ipar saya) saya memutuskan mudik pake motor.
Segala persiapan telah saya lakukan mulai dari persiapan box yang akan ditaruh dimotor hingga hal-hal lain yang menyangkut persiapan kondisi motor dan pendukung lainnya dengan cara-sembunyi-sembunyi.
Hari itu sabtu, 27 September 2008 saya mulai berkemas dan akan berangkat. Tepat jam 20.50 saya siap berangkat dan dirasa seluruh perbekalan sudah cukup dan saya mulai starter motor saya untuk menghampiri dan bertemu didekat rumah sahabat saya yang sudah saya anggap sebagai kakak saya sendiri. Naas betul, tak disangka dan dinyana saat saya berhenti untuk menunggu sahabat saya tersebut, ban belakan motor saya terasa kempes. Saat itu juga pikiran kalut dan tak karuan memikirkan segala hal-hal yang negatif. Sahabat saya pun ketika saya beritahukan bahwa ban saya kena paku langsung terdiam. Dengan tanpa pikir panjang, kebetulan 10 meter dari lokasi ada tukang tambal ban dan saya minta untuk diganti ban dalamnya dengan yang baru.
Sambil menunggui tak lama kemudian temen saya datang dan motor siap dipakai, dan saya mulai berfikir positif mending cilaka sekarang daripada nanti pas jauh ditengah perjalanan.
Dengan semangat saya berangkat dan tak lupa berdo'a akan diperjalanan nanti tidak menemui hambatan dan selamat sampai tempat tujuan.
Peristirahatan pertama saya dikota Karawang, berhenti kurang lebih 30 menit untuk minum dan sambil ngobrolin perjalanan yang masih panjang. Disitu saya juga terpana melihat jutaan motor yang lewat tidak putus-putusnya melewati jalanan dan hendak mudik.
Kemacetan mulai ketika masuk wilayah Cikampek dan kembali lancar begitu masuk wilayah Subang. Masuk wilayah Indramayu atau tepatnya di Sukra seperti telah direncanakan sebelumnya untuk beristirahat. Disitu rasa capek bercampur kantuk mulai terasa. Kami memutuskan untuk sekalian makan saur, sehingga disitu kami beristirahat kurang lebih 2 jam.
Perjalanan kami teruskan untuk selanjutnya berhenti lagi di wilayah Indramayu paling ujung timur untuk melakukan sholat Shubuh. Disitu beristirahat kurang lebih 1 jam, namun walaupun mata terasa sangat kantuk namun tidak dapat tidur.
Perjalanan akhirnya kami teruskan lagi, dan kemacetan mulai terjadi ketika memasuki wilayah Cirebon atau tepatnya hingga memasuki pintu tol kanci. Usai itu jalanan mulai lancar dan kami berhenti lagi sejenak di Cirebon. Dari Cirebon kira-kira pukul 08.30 perjalanan kami lanjutkan untuk masuk ke wilayah Losari dan kemudian Brebes. Sepanjang perjalan dari Losari dan Brebes sepanjang jalan macet dan hanya bisa berjalan merayap. Hal tersebut membutuhkan kesabaran saya yang sepanjang perjalanan selalu membaca dzikir agar diselamatkan.
Di Brebes tenaga sudah mulai terkuras oleh macetnya jalanan dan perut sudah tidak bisa diajak kompromi setelah sebelumnya berniat tetap puasa namun mengingat beratnya perjalanan akhirnya puasa kami batalkan. Di brebes (Tanjung) kemacetan belum juga cair dan masih berjalan merayat dan kami kembali menepikan motor untuk beristirahat sejenak. Setelah dirasa cukup melemaskan otot-otot dan minum sekedarnya kami kemudian meneruskan perjalanan yang masih separo lagi.
Di wilayah Tegal kemacetan telah cair dan perut benar-benar sudah keroncongan. Kami memilih warung nasi Padang, yang kami rasa masakannya menggugah selera. Setelah kami memesan makanan selera makan yang semula tinggi sedikit terganggu oleh menu makanan yang ada dan dihidangkan apa adanya. Karena perut lapar sudah tak tertahan lagi maka kami pun langsung menyantapnya dengan setengah hati. Nafsu makanku benar-benar hilang ketika ayam goreng yang saya makan rasanya tidak seperti yang aku bayangkan dan aku biasa makan. Ayam tersebut terasa masih mentah, dan aku putuskan untuk berhenti makan. Tak lama kemdian temenku pun juga mengalami hal yang sama. Lebih nggak enak lagi ketika makanan itu saya bayar, nasi ayam 2 porsi + 3 gelas teh manis panas harganya Rp. 40.000,-.
Dengan sedikit kecewa kemudian kami meneruskan perjalanan yang masih panjang. Peristirahatan saya selanjutnya di Weleri (wilayah Kab. Batang) tepatnya sesudah alas roban. Kami berhenti di satu Masjid yang begitu megah dan bersih untuk melakukan sholat dzuhur. Jam menunjukkan pukul 13.30. Tepat jam 14.15 kami meneruskan perjalanan untuk masuk wilayah Kendal dan kemudian Semarang. Di Semaarang kami memutuskan untuk mampir ke saudaranya temenku, namun ternyata tidak ada, dan kami gagal untuk istirahat. Kami teruskan perjalanan dan sebelumnya isi bensin. Di SPBU tersebut saya lihat ada tukang es Cendol, dan saya pesan satu untuk saya minum hanya sekedar untuk mengisi perut dan mengurangi rasa kantuk. Oleh karena temen saya tidak ikut minum, maka segelas es cendol itupun langsung aku teguk hanya dalam hitungan detik, selanjutnya saya ngacir Semarang jogja aku tempuh dalam kecepatan 60 - 100 km/jam. Memasuki kota Magelang, maksud hati ingin motong jalan namun sial malah aku dapatkan karena kemacetan justru aku dapati. Keluar dari kota magelang jalanan mulai lancar kembali dan motorku pun aku pacu hingga mentok gas. Tepat jam 17.30 aku sampai di kampung halamanku di Dn. Kembang, Wonokerto, Turi, Sleman, Yogyakarta. Total jarak yang aku tempuh 602 KM dalam waktu 20 jam. Suatu pengalaman yang baru dalam hidupku. Dan dirumah itu aku disambut dengan suasanan keheranan dan tidak percaya dari keluargaku termasuk Bapak.