Sabtu, 26 Juli 2008

Entah Apa !

Penyelenggaraan suatu event atau turnament olah raga apapun selalu mempunyai gengsi. Gengsi tersebut timbul atas sukses penyelenggaraan dan sukses prestasi. Ukuran sukses disini tentunya ditentukan pula oleh level atau tingkatan turnamen itu sendiri. Jadi ukuran sukses untuk turnamen kelas Future tidak bisa dibandingkan dengan turnamen kelas Grandslam ataupun tier 1. Sukses tidaknya suatu gelaran pertandingan akan mempengaruhi keberadaan sponsor. Sponsor akan terus mendukung bila dirasa penyelenggaraan sukses, namun sebaliknya sponsor akan lari bila penyelenggaraan tidak sukses.Di Indonesia turnamen tenis internasional tertinggi adalah tier III, yaitu turnamen yang disponsori oleh Commonwelth Bank yang digelar pada September mendatang. Pada event tersebut pihak panitia mengundang atau mendatangkan petenis-petenis top putri dunia untuk tampil di event yang digelar di pulau dewata itu. Dan hal ini bisa di simpulkan bahwa lebih utama dalam sukses penyelenggaraan. Dari sekian kali penyelenggaraan gelar juara baru sekali direbut petenis tuan rumah yaitu Angelique Widjaja pada tahun 2002. Sesudah itu petenis tuan rumah hanya bisa turun pada event tersebut dengan fasilitas wild card, dan hasilnya kita sudah tahu semua. Petenis tuan rumah kalah kelas dan langsung tersingkir dibabak-babak awal.Dibulan Juli ini diselenggarakan pula turnamen tenis khusus putra yaitu Indonesia Men's Future. Turnamen ini tergolong sebagai turnamen kelas paling rendah dengan memperebutkan total hadiah US$ 10.000. Dari daftar peserta hanya muncul nama Elbert Sie yang langsung diterima dibabak utama. Sedangkan dibabak kualifikasi tak tampak satu pun nama petenis tuan rumah. Timbul dalam benak saya, kemana petenis tuan rumah? Apakah mereka kelelahan usai menjalani pertandingan PON XVII di Balikpapan? Dari informasi yang diperoleh bahwa selain Elbert Sie, dibabak utama nanti dua petenis Indonesia lainnya juga akan tampil yaitu Christopher Rungkat dan Ayrton Wibowo. Keduanya masuk babak utama melalui fasilitas Wild-card. Sejenak kita lupakan Elbert sie, Christo serta Ayrton, kita beralih ke petenis-petenis Indonesia lainnya kenapa tidak ada dalam list daftar peserta? Setelah saya liat kalender Turnamen Diakui PELTI (TDP) terdapat empat pertandingan kelas future yang bakal digelar sepanjang tahun 2008. Upaya PB PELTI tetap menggelar turnamen tersebut yang notabene dua turnamen tanpa sponsor dirasa suatu keputusan yang sangat membanggakan sebagai upaya tetap mempertahankan turnamen tersebut. Karena bila suatu turnamen internasional yang telah dihapus oleh ITF, biasanya akan sulit untuk membuat turnamen serupa ditahun-tahun mendatang. Karena turnamen yang telah dihapus biasanya diisi oleh pihak atau negara lain yang juga ingin menggelar turnamen dengan kelas yang sama.Upaya PB PELTI mempertahankan event tersebut tentunya tidak terlepas dari program pembinaan untuk para petenis Indonesia. Namun bila melihat kenyataan yang ada, bahwa turnamen ini diikuti oleh mayoritas petenis asing, benarkah ini sebagai pembinaan? Antusiasme petenis Indonesia pada pertandingan tenis nasional seperti Piala Gubernur dan Sportama series seakan langsung hilang begitu penyelenggaraan PON di Kalimantan Timur usai. Dan para petenispun kini entah kemana? Apakah mereka kembali berhitung untuk ikut turnamen future? Sebab kita tahu bahwa untuk mengikuti pertandingan tenis Internasional kini setiap petenis harus memiliki IPIN. Setiap petenis juga harus membayar iuran tahunan agar IPIN tersebut berlaku. Sebab apabila tidak membayar iuran tahunan dan diketahui ikut suatu turnamen internasional maka petenis tersebut akan didenda. Adakah hubungan sebab akibat antara PON, IPIN dengan minimnya minat petenis Indonesia mengikuti pertandingan tenis Men's Future kali ini. Sebab bila kita menengok ke belakang jumlah peserta pertandingan tenis sebelum digelar PON XVII yaitu Piala Gubernur KDKI Jakarta dan Sportama Series beberapa bulan yang lalu sangat banyak. Sebagian banyak orang sudah bisa menebak apa hubungan sebab akibat antara ketiganya. Sebagai upaya pembinaan agar setiap penyelenggaraan turnamen tidak sia-sia perlu langkah nyata dari hasil suatu pemikiran bersama. Pembinaan tidak boleh putus dan tidak boleh instan dari junior hingga jenjang senior. Wujudnya bisa dengan mengirim petenis ke berbagai turnamen ataupun menggelar pertandingan baik itu yunior maupun senior. Dan yang tak kalah penting adalah menanamkan pola pikir yang maju bahwa tenis sebagai investasi. Suatu investasi mengandung resiko dua kemungkinan yaitu untung dan rugi. Pemikiran investasi yang maju tentunya dengan perhitungan yang matang. Investasi hari ini, tidak mungkin mendapatkan hasil hari ini pula. Didunia tenis investasi berkisar antara 7 - 15 tahun atau bahkan lebih baru akan didapat hasil investasi itu.

Tidak ada komentar: