Rabu, 22 Mei 2013

KETIKA SEBUAH EGO YANG DITONJOLKAN

PART 1

Jakarta, 22 Mei 2013 - Perubahan jaman seiring perjalanan waktu dan tingginya mimpi mimpi yang tergadaikan mengemuka dalam sebuah komunitas ataupun kelompok masyarakat. Disitu terdapat sebuah angan dan mimpi dari satu anggota dan kelompok kecil yang merasa tertindas ingin bangkit dari keterpurukan dan kesewenang wenangan. Tapi entah dimana muara dan ujungnya tak seorang pun tahu dan mampu mengukurnya.

Saat ini semua menuntut perubahan, perubahan "menuju lebih baik". Semua berharap ada perubahan menuju keselarasan dan membabat kesenjangan yang selama ini dipagari tembok tinggi dan berduri. Siapapun yang akan melompati tembok itu pasti akan tertusuk duri. Ada banyak tokoh yang dapat diperankan dalam usaha menggapai perubahan tersebut. Pada awalnya semua satu visi dan satu misi. Namun ditengah perjalanannya, masing masing peran tersebut tak dapat di perankan ketokohannya sesuai peran tokoh yang disandang. Sejak itulah visi dan misi yang tadinya menuju satu titik mulai pudar dan tak dapat dilihat kemana fokus perubahan yang diharapkan. Dan pada akhirnya timbullah suatu usaha yang dinamakan sebagai tindakan penyelamatan.

Namun penyelamatan tersebut pun akan jadi rancu manakala masing masing pihak merasa berada pada jalur yang benar sebagai akibat pudarnya visi dan hanya menonjolkan misi. Misi memang tetap sama, namun bila visi telah pudar dan masing masing mencari pembenaran atas visinya, maka seperti halnya memanggang daging namun berebut bara. Hasilnya mungkin memang mateng, namun tidak sama rasa. 

Pudarnya kebersamaan dalam membangun visi dan misi berawal dari ego dari: 
  1. Pribadi pribadi yang merasa dirinya telah menjadi bagian itu dalam waktu yang cukup lama
  2. Pribadi yang merasa bahwa apa yang telah diberikan selama ini melebihi takaran rata dari seluruh anggota
  3. Pribadi yang merasa memiliki kekuasaan dan kewenangan namun tak pernah memiliki ide dan harus menerima ide ide anggota lain yang lebih variatif dan majemuk.
  4. Pribadi yang lebih menonjolkan kelompok tertentu dan tidak mampu menerima kebesaran kelompok lain.
  5. Tidak adanya komunikasi secara kontinue sesuai garis komando organisasi yang jelas  dalam demokrasi terpimpin.

Tidak ada komentar: