JAKARTA - Keadaan Slemania (tribun utara) saat ini memang dilematis. Ketika dulu suporter pss masih satu, seluruh tribun bisa dibilang hijau semua dan bisa dibilang semua adalah slemania walau tidak sampai 90% karena sebagian yg lain adalah penonton umum. Tapi mereka semua merasa menjadi bagian dari pendukung PSS. Dan ketika sebuah organisasi yang menjadi wadah tidak mampu untuk menampung aspirasi ataupun mengayomi anggota atau simpatisannya maka disitulah timbul bibit bibit keretakan dalam organisasi. Wajar memang dalam sebuah organisasi massa yang tidak terikat itu terdapat riak riak kecil yang tentunya harus bisa diredam agar tidak menjadi suatu gelombang yang besar yang bisa menghancurkan organisasi itu sendiri.
Ketidak puasan suatu individu terhadap individu yang lain atau bahkan ke pengurus mungkin itu juga menjadi bagian dari riak kecil itu. Pembiaran atau penanganan yang salah tentu berakibat fatal. Setiap anggota ataupun pengurus organasasi tentunya juga harus tahu AD ART sebagai pegangan agar masing masing tidak salah melangkah. Bila ada bagian AD ART yang salah pun seharusnya diperbaiki bersama disesuaikan dengan semangat serta visi organisasi.
Ketidak puasan suatu individu terhadap individu yang lain atau bahkan ke pengurus mungkin itu juga menjadi bagian dari riak kecil itu. Pembiaran atau penanganan yang salah tentu berakibat fatal. Setiap anggota ataupun pengurus organasasi tentunya juga harus tahu AD ART sebagai pegangan agar masing masing tidak salah melangkah. Bila ada bagian AD ART yang salah pun seharusnya diperbaiki bersama disesuaikan dengan semangat serta visi organisasi.
Saat ini mungkin sudah menjadi klimaks dari semua itu, atau bahkan mungkin masih ada lagi episode akhir yang tak pernah kita bayangkan sebelumnya. Kita semua tentu ingin mengembalikan kejayaan slemania. Bukan membanggakan komunitas, bukan pula mau memperoleh manfaat pribadi dalam slemania. Tapi sebuah wadah dimana ada keterkaitan antara kejayaan PSS dengan para pendukungnya bisa sejajar dengan tim tim elit di negeri ini.
Kehadiran serta lahirnya suporter PSS diluar slemania seharusnya menjadi spion agar kita bisa tahu siapa yang ada dibelakang kita yang hendak mendahului kita, atau bisa menjadi cermin untuk mengamankan jalan organisasi slemania kedepan namun masih bisa melihat ke belakang serta kanan kiri.
Slemania ibarat sebuah kendaraan, banyak penumpang yang naik serta turun namun satu tujuan yaitu ut mendukung PSS. Adakalanya kita menganggap diantara penumpang yg hanya sekedar menumpang, tapi tidak pernah sampai tujuan dan memilih turun, entah ganti kendaraan lain atau memilih jalan kaki sendiri.
Sebagai sebuah kendaraan yang melayani trayek menuju kejayaan PSS, Slemania harus berani bolak balik melalui jalur yang sama tanpa harus mencela penumpang satu sama lain. Jangan biarkan penumpang itu tiba turun loncat begitu saja tanpa menunggu kendaraan berhenti. Dan jangan pula kita berhenti mengajak orang orang yg berada dipinggir jalan untuk kita ajak lagi bersama sama kita naik kendaraan yang sama, tanpa harus membayar dan juga tanpa dibayar. Belajarlah dari filosofi sopir angkot dan angkudes yang sabar melalui jalur yg sama setiap harinya serta melayani setiap penumpang dengan segala keikhlasan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar